Ormas Antar Sekolah Tawuran di Tangerang

01/08/2010

KibulPos — Jakarta

Tawuran antar dua ormas dari sekolah yang berbeda terjadi malam tadi di daerah Bintaro, Tangerang. Tawuran tersebut meletus antara ormas FXRC dari SMK Maju Undur 161 Pagi dan ormas FOREZZT dari SMA Gelora Saya 12. Penyebab tawuran hingga kini belum diketahui, namun sumber dari masyarakat setempat mengatakan bahwa tawuran tersebut terjadi karena aksi saling pelotot antara dua anggota ormas.

Dua orang tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam tawuran ini. Selain itu kerusakan material diduga mencapai ratusan juta rupiah, meliputi sepeda motor yang dibakar maupun kios-kios yang dihancurkan. Pasca kejadian ini, Bintaro terpaksa ditutup.

Menurut Kak Sato, ketua Komisi Pencinta Anak yang juga pernah terkenal dengan boneka-boneka binatangnya, tawuran semacam ini merupakan akibat tak langsung dari kondisi keluarga yang kurang harmonis. Menurutnya, kecenderungan remaja-remaja di sekolah untuk membentuk ormas adalah sebuah usaha untuk mengukuhkan eksistensi dirinya sekaligus mencari lingkungan yang mau menerima mereka.

“Fenomena ini sudah ada sejak dulu. Anak-anak yang kurang kasih sayang dari orangtuanya, cenderung untuk membentuk ormas dengan teman-teman sebayanya. Di ormas tersebut, mereka mendapat pengakuan, mereka jadi merasa aman dan mendapat perhatian yang mereka butuhkan. Sayangnya, ormas-ormas tersebut seringkali mementingkan fanatisme kelompok, sehingga bersinggungan sedikit saja dengan ormas lain, bisa memicu pertikaian,” ucap Kak Sato sambil tersenyum dan membenarkan kaca-matanya, “…orangtua harus banyak memberi bimbingan bila anaknya kedapatan bergabung dengan sebuah ormas.”

Lain lagi dengan pendapat psikolog Indria Suherti. Menurut Indria, terbentuknya berbagai ormas di kalangan remaja adalah hal yang normal dan tidak selalu berasal dari kondisi keluarga yang berantakan. Baginya, bergabungnya remaja dalam sebuah ormas adalah bentuk pencarian jati diri yang wajar pada individu seusianya.

“Saya pikir, para remaja baik SMP ataupun SMA/SMK masing-masing membuat ormas-ormasan, itu adalah hal yang tidak salah. Mereka berusaha mencari jati diri dalam lingkup teman sebayan mereka. Namun, untuk mencegah terjadinya bentrok atau tawuran, pihak sekolah harus bersikap tegas. Setiap ada ormas yang membuat keributan, para siswa yang terlibat di dalamnya harus segera diberi sanksi,” ucap Indria.

Berkaitan dengan peristiwa tawuran antara ormas FXRC dan FOREZZT, masing-masing kepala sekolah baik dari SMK Maju Mundur 161 Pagi maupun dari SMA Gelora Saya 12 berjanji untuk memberi sanksi tegas kepada murid-muridnya yang terlibat. Kendati demikian, kedua pihak sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini ke jalur hukum.

“Wajar kok ormas-ormas itu saling tawuran… Udah biasa, namanya juga ABG,” ujar Syaifullah, Kepala Sekolah SMA Gelora Saya 12.

Berhubungan:

Comments

Powered by Facebook Comments

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Masukkan alamat email Anda.

Join 1 other subscriber